Menembus Keterbatasan


Menembus Keterbatasan"


Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya.
Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak Korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu ?

Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak Korek api saja !

8:47 AM | Posted in | Read More »

Living Without Limits

Article by Brian Tracy *

The starting point of great success and achievement has always been the same. It is for you to dream big dreams. There is nothing more important, and nothing that works faster than for you to cast off your own limitations than for you to begin dreaming and fantasizing about the wonderful things that you can become, have, and do.

As a wise man once said, “You must dream big dreams, for only big dreams have the power to move the minds of men.” When you begin to dream big dreams, your levels of self-esteem and self-confidence will go up immediately. You will feel more powerful about yourself and your ability to deal with what happens to you. The reason so many people accomplish so little is because they never allow themselves to lean back and imagine the kind of life that is possible for them.

A powerful principle that you can use to dream big dreams and live without limits is contained in what Elihu Goldratt calls the “Theory of Constraints.” This is one of the greatest breakthroughs in modern thinking. What Goldratt has found is that in every process, in accomplishing any goal, there is a bottleneck or choke cord that serves as a constraint on the process. This constraint then sets the speed at which you achieve any particular goal.

What Goldratt found is that if you concentrate all of your creative energies and attention on alleviating the constraint, you can speed up the process faster than by doing any other single thing.

Let me give you an example. Let us say that you want to double your income. What is the critical constraint or the limiting factor that holds you back? Well, you know that your income is a direct reward for the quality and quantity of the services you render to your world. Whatever field you are in, if you want to double your income, you simply have to double the quality and quantity of what you do for that income. Or you have to change activities and occupations so that what you are doing is worth twice as much. But you must always ask yourself, “What is the critical constraint that holds me back or sets the speed on how fast I double my income?”

A friend of mine is one of the highest-paid commission professionals in the United States. One of his goals was to double his income over the next three to five years.

He applied the 80/20 rule to his client base. He found that 20 percent of his clients contributed 80 percent of his profits, and that the amount of time spent on a high-profit client was pretty much the same amount of time spent on a low-profit client. In other words, he was dividing his time equally over the number of tasks that he does while only 20 percent of those items contributes 80 percent of his results.

So he drew a line on his list of clients under those who represented the top 20 percent and then called in other professionals in his industry and very carefully, politely, and strategically handed off the 80 percent of his clients that only represented 20 percent of his business. He then put together a profile of his top clients and began looking in the marketplace exclusively for the type of client who fit the profile; in other words, one who could become a major profit contributor to his organization, and whom he in turn could serve with the level of excellence that his clients were accustomed to. And instead of doubling his income in three to five years, he doubled it in the first year!

So what is holding you back ? Is it your level of education or skill ? Is it your current occupation or job? Is it your current environment or level of health? Is it the situations that you are in today? What is setting the speed for you achieving your goal?

Remember, whatever you have learned, you can unlearn. Whatever situation you have gotten yourself into, you can probably get yourself out of. If your real goal is to dream big dreams and to live without limits, you can set this as your standard and compare everything that you do against it.

The three keys to living without limits have always been the same. They are clarity, competence, and concentration.


Clarity means that you are absolutely clear about who you are, what you want, and where you’re going. You write down your goals and you make plans to accomplish them. You set very careful priorities and you do something every day to move you toward your goals. And the more progress you make toward accomplishing things that are important to you, the greater self-confidence and self-belief you have, and the more convinced you become that there are no limits on what you can achieve.

Competence means that you begin to become very, very good in the key result areas of your chosen field. You apply the 80/20 rule to everything you do and you focus on becoming outstanding in the 20 percent of tasks that contribute to 80 percent of your results. You dedicate yourself to continuous learning. You never stop growing. You realize that excellence is a moving target. And you commit yourself to doing something every day that enables you to become better and better at doing the most important things in your field. Concentration is having the self-discipline to force yourself to concentrate single-mindedly on one thing, the most important thing, and stay with it until it’s complete.

The two key words for success have always been focus and concentration.
Focus is knowing exactly what you want to be, have, and do. Concentration is persevering, without diversion or distraction, in a straight line toward accomplishing the things that can make a real difference in your life.

When you allow yourself to begin to dream big dreams, creatively abandon the activities that are taking up too much of your time, and focus your inward energies on alleviating your main constraints, you start to feel an incredible sense of power and confidence. As you focus on doing what you love to do and becoming excellent in those few areas that can make a real difference in your life, you begin to think in terms of possibilities rather than impossibilities, and you move ever closer toward the realization of your full potential.

* Motivational Speaker, Businessman & Self Help Author
Brian Tracy is a leader in the field of human development. He is a millionaire, entrepreneur, businessman, author, and motivational speaker.

1:21 AM | Posted in | Read More »

Nothing Is Free

Saya sangat ingin sekali menampilkan tulisan yang telah di muat di Kompas pada November 2008, sebuah tulisan yang sangat bagus dan untuk dapat di baca oleh yang belum membacanya :
Tulisan ini di buat oleh : Eileen Rachman & Sylvina Savitri

Dalam sebuah seminar, pada waktu universitas negeri belum mandiri, seorang mahasiswa yang mengaku kuliah di sebuah universitas negeri besar mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada disiplin ilmu yang sedang ditekuninya dan berkeinginan sekali ‘pindah bidang’. Ia terkejut saat saya berkomentar bahwa ia sudah menyia-nyiakan uang Negara. Dengan telah membayar uang kuliah, ia merasa telah melunasi kewajibannya, tidak menyadari bahwa subsidi Negara begitu besar ke universitas-universitas negeri, sehingga uang kuliah yang dibayarkannya sebenarnya tidak masuk akal alias terlalu murah.

Terkadang kita memang bisa lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap apa yang sudah kita terima. Tak sedikit orang yang tidak mengerti bahwa hidupnya di dalam suatu situasi, tempat atau negara juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mungkin kita juga sulit menghitung berapa banyak orang yang tak peduli atau bahkan berusaha untuk lolos dari kewajiban membayar cukai atau pajak, padahal pajak sangat vital dibutuhkan agar pemerintah mempunyai dana untuk membangun infrastruktur, menalangi kesulitan keuangan, membayar utang negara, membiayai pendidikan dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, apa yang diterima oleh orang lain, seperti fasilitas, upah, imbalan dan kemudahan, sering juga tidak dimengerti oleh orang-orang yang tidak mendapatkannya. Saya terhenyak ketika cucu saya menanyakan apakah orang berkeinginan menjadi ‘orang penting’ agar bisa mendapatkan kemudahan, seperti diskon, duduk di kelas satu, menghindari kemacetan dengan gaung sirene ? Padahal, bila kita renungkan sejenak, di balik apa yang diterima oleh seseorang pastilah ada ‘harga yang harus dibayar’.

Seorang pembantu rumah tangga saya bercerita bahwa pada usia 6 tahun, ia perlu mencari kayu kering dulu, sebelum ibunya bisa menanak nasi untuk sarapan. Saya jadi ingat ungkapan yang sering disebut-sebut abang saya semasa kecil, ”Di dunia ini tak ada yang gratis, kecuali sinar matahari “. Saya semakin menghayati ungkapan tersebut, ketika akan memasang sumur pompa berkedalaman besar. Ternyata sumur pompa tersebut kemudian dipasangi meter dan setiap kubik air yang tersedot perlu dibayarkan pada pemerintah, karena air tanah pun adalah milik negara dan perlu dikelola pemerintah.

Sadari Risiko dalam Setiap Pilihan

Banyak orang, terutama di negara-negara maju, merasa sangat terpukul dengan terpuruknya pasar saham yang setelah ditunggu berhari-hari tidak juga kunjung pulih, bahkan merosot lagi. Pertanyaan mengenai: ’Kapan pasar pulih lagi?’, ‘Bagaimana pulihnya ?, Dan, ‘Tindakan apa yang harus diambil?’ beredar dengan harapan adanya pihak yang menciptakan ‘magic’ dengan mengangkat kejatuhan yang dibuat oleh sekelompok manusia yang tidak ada puasnya. Kita lihat bahwa yang dialami oleh para pengusaha dan investor adalah keharusan menelan konsekuensi dari resiko yang diambil. Apa pun pilihan yang kita ambil, kita perlu sangat sadar bahwa ada harga yang perlu dibayar. Di Indonesia, ungkapan Sri Mulyani agar pada para pengusaha mengurus dan menjaga keuangan perusahaan baik-baik, tentunya menandakan tidak akan ada bantuan ‘gratis’ lagi dari Negara untuk ‘menolong’ pengusaha yang terpuruk.

Dalam setiap peran dan pilihan kita, apakah sebagai wirausaha, pengelola lembaga keuangan, investor, pegawai, pegawai negeri, anggota DPR atau bahkan warganegara, akan senantiasa melekat hak, kewajiban dan konsekuensi serta risiko.
Ada pejabat negara dengan gaji yang cukup, dihormati oleh public,namun beban yang ditanggung berat dan memerlukan dedikasi tinggi. Ada yang memilih pekerjaan mudah, namun bayaran dan risiko yang kecil. Investor yang menginginkan untung yang besar, pastinya juga sepenuhnya sadar bahwa risko keterpurukan yang dialami bisa parah. Selebriti pun membayar kepopulerannya dengan keharusan menjaga penampilan setiap saat, kemungkinan digosipkan dan hilangnya privasi.

Menilai dengan ‘Fair’, Membayar dengan ‘Pas’

Saya sungguh terkejut ketika teman saya yang cukup berada, tampak berusaha sekali untuk secara memelas meminta ‘keringanan’ membayar uang pangkal dan uang pembangunan sekolah putra-putrinya. Komentarnya: “Kalau belum dapat diskon, rasanya kurang sreg”. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak menghitung bahwa kontribusi yang diberikannya untuk sekolah akan dinikmati kembali dalam bentuk fasilitas belajar bagi putra-putrinya untuk menguasai disiplin ilmu ? Apakah alasan bahwa masih banyak terjadi penyelewengan dan korupsi, memperbolehkan orang untuk tidak berkontribusi atau membayar yang ‘pas’ ?

Ketidaksukaan kita untuk berhitung atau menilai,serta meningkatkan kesadaran kegiatan ‘membayar’ sering menyebabkan kita jadi tidak bisa menimbang ataupun menyeimbangkan hak dan kewajiban. Karyawan yang prestasinya biasa-biasa saja, kemudian di akhir tahun tetap menuntut kenaikan gaji karena harga di pasar naik, sebetulnya menuntut lebih dari haknya. Sebaliknya, bila individu berprestasi baik sehingga perusahaan untung, kita semestinya tidak perlu sungkan sungkan mengungkapkan agar perusahaan ingat untuk membayar lebih banyak.

Dari sisi individu, kita sebenarnya perlu menanamkan sikap fair pada diri sendiri dan pada pihak eksternal. Ukuran yang paling mudah sebenarnya adalah uang. Membayar iuran, pajak, tilang dengan benar adalah latihan yang paling baik untuk meningkatkan ‘awareness’ akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap pembangunan. Bila hal ini sudah kita lakukan, kita bisa meningkat lebih jauh untuk menghitung ‘harga’ yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya, untuk bisa berprestasi tinggi, kita perlu membayar dengan latihan dan kerja keras, di saat orang lain memilih bersantai. Agar direspek sebagai orang yang anggun dan bisa mendapatkan servis yang baik, terkadang kita harus membayar dengan kesabaran menunggu, mengantri tanpa melakukan suap atau membeli catutan. Untuk mempertahankan pelanggan, tak jarang kita juga perlu membayar dengan mengorbankan waktu, bahkan perasaan. Demikian pula kita dan perusahaan perlu mematuhi berbagai larangan untuk bisa mendapatkan predikat ‘corporate governance’.
Sepanjang kita masih bisa menyeimbangkan diri, dan tidak mengorbankan bahkan menjual prinsip, kita bisa berjalan lebih tegap , sehat mental dan perkasa bila merasa sudah membayar dengan ‘pas’.

4:00 PM | Posted in | Read More »

COGITO ERGO SUM

"Aku berpikir maka aku ada" ... demikianlah pengertian judul yang terasa asing bagi kita, cogito ergo sum sebuah kata yang diucapkan oleh Rene_Descartes yang lebih dikenal sebagai Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Hal yang menarik bagi saya adalah bahwasanya kita sadar secara penuh bahwasanya sebagai Manusia kita selalu dituntut untuk dapat berpikir atau senantiasa berpikir ...., bagaimana maha dahsyatnya pemikiran kita dan tidak berujung dan tidak terbatas (unlimited) serta selalu berevolusi (berkembang dan bertumbuh).

Manusia memang mahkluk yang mampu dan selalu berpikir ... inilah yang membedakan kita dari makhluk lainnya, oleh karena itu mari kita selalu meningkatkan kemampuan dalam "berpikir" yang nantinya akan menuntun kita dan dapat membantu kita dalam hal pemahaman dan kemajuan pada diri kita. Misalnya kita akan sadar akan kekuatan dan kelemahan pada diri kita, analisa keberhasilan dan kegagalan yang pernah kita capai, peluang dan ancaman yang ada di hadapan kita, dan banyak lagi yang dapat kita lakukan bila kita sadar dan menyakini "Cogito ergo sum" aku berpikir maka aku ada.

Perkembangan kemajuan peradaban modern saat ini adalah hasil evolusi pemikiran manusia yang diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penciptaan banyak di dunia. Manusia dengan kemampuan berpikirnya akan terus belajar dan berupaya untuk dapat mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik dari masa sebelumnya ... karena kita manusia diberi kemampuan untuk hal tersebut.

Descartes ingin mengajak kita berpikir dengan ujarannya yang cukup terkenal tersebut, bahwa eksistensi kita adalah pada kemampuan berpikir kita dalam 'mengadakan' atau menyadari keberadaan diri kita sendiri

Bila saat ini kita sedang dalam suatu kondisi yang sangat buruk atau mengalami kesulitan yang teramat sangat atau apapun kegagalan yang telah kita alami yang sering membuat kita kehilangan harapan, malas untuk berpikir atau sudah pada tahapan pasrah ..., jangan pernah lupa dan harus kita dengan sadar ... "cogito ergo sum" aku diberi kemampuan berpikir > mampu untuk dapat keluar dari segala bentuk permasalahan atau kondisi yang tidak saya inginkan ini. Berpikir dan diikuti dengan Belajar dengan sikap disiplin dan kemauan keras tidak mudah menyerah harus ku lakukan, karena aku mampu berpikir dan mendapatkan solusi.

Pemikiran dari Descarte telah membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.

Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah:

"Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am)

Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita ...., salam

10:14 AM | Posted in | Read More »

Motivasi


Motivasi adalah perpaduan antara keinginan dan energi untuk mencapai tujuan tertentu.
Memengaruhi motivasi seseorang berarti membuat orang tersebut melakukan apa yang kita inginkan. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidupan merupakan kecenderungan untuk dapat mempertahankan hidup.

Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan,
memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan.

Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.

Motivasi adalah suatu fenomena psikologis, sehingga kita perlu mengetahui pendapat dari para psikolog. Mungo Miller, pimpinan Affiliated Psychological Services, mencetuskan enam prinsip umum motivasi sebagaimana di bawah ini.

1. Motivasi adalah proses psikologis, atau lebih tepatnya proses emosional, bukan logis.
2. Motivasi pada dasarnya adalah proses yang tidak kita sadari. Tindakan yang kita atau orang lain lakukan mungkin saja tampak tidak logis, namun bagi orang yang melakukannya, tindakannya tampak wajar dan masuk akal.
3. Motivasi bersifat individual. Tingkah laku seseorang bersumber dari dirinya sendiri.
4. Motivasi tiap orang berbeda, begitu juga setiap individu bervariasi dari waktu ke waktu.
5. Motivasi adalah proses sosial. Tak dapat diingkari, bahwa terpenuhi atau tidaknya kebutuhan kita tergantung dari orang lain.
6. Dalam tindakan sehari-hari, kita dipandu oleh kebiasaan yang bersumber dari motivasional di masa lalu.

Pendorong Motivasi

Motivasi seseorang sering kali dipengaruhi oleh dua hal berikut.

” fear “ , yang dimaksud dengan ” fear “ adalah sebuah rasa takut :-SS akan sesuatu.Hakikat manusia adalah ingin selalu menghindari hal-hal yang akan merugikan dirinya. Persepsi tentang bagaimana kita memandang dua kebutuhan tersebut sangat menentukan mana yang akan diprioritaskan. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa di dikeluarkan karena tidak mencapai target, kita akan mengorbankan waktu makan siang untuk mengerjakannya. Sebaliknya, jika kita merasa tidak akan mendapat masalah walaupun pekerjaan itu tidak selesai, kita akan pergi untuk makan siang.

“gready “ , yang dikmaksud dengan ” gready “ adalah kerakusan >:) akan pemenuhan kebutuhan hidup. Anggapan bahwa suatu tindakan akan memenuhi suatu kebutuhan. Misalnya, anda punya target pada tahun baru ini yaitu membeli laptop baru seharga Rp 5.000.000, tapi uang yang ada didalam rekening anda saat ini adalah Rp 200.000 maka anda pun akan terdorong untuk mencari kekurangannya bagaimanapun caranya.

Orang dapat termotivasi karena kepercayaan, nilai, minat, rasa takut, dan sebagainya. Diantaranya adalah faktor internal seperti kebutuhan, minat, dan kepercayaan. Faktor lainnya adalah faktor eksternal, misalnya bahaya, lingkungan, atau tekanan dari orang yang dikasihi. Tak ada proses yang mudah dalam motivasi — kita harus selalu terbuka dalam memandang orang lain (sekeliling).

Mampu menjaga dan memelihara motivasi utama di dalam diri kita, akan memberikan kemudahan bagi diri kita di dalam mencapai tujuan dan cita-cita hidup yang telah kita tetapkan

11:20 PM | Posted in | Read More »

Who Am I - Motivasi

Topik motivasi adalah topik yang banyak dibicarakan orang, banyak literatur, buku-buku dan seminar diadakan membahas permasalahan Motivasi. Perusahaan senantiasa mengadakan training rutin dan berkesinambungan untuk dapat meningkatkan dan menjaga motivasi dari karyawannya. Peningkatan motivasi diyakini mampu mengeluarkan potensi terbaik dari setiap orang.

Pada kenyataanya tidak banyak orang mampu menemukan dan memotivasi dirinya sendiri. Disisi lain bayak para atasan yang juga mengalami frustasi karena belum atau tidak mampu memotivasi para karyawan atau bawahannya.

Dari beberapa teori motivasi yang ada, motivasi sesorang dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe motivasi. "Moslow" misalnya membagi beberapa motivasi berdasarkan hirarki kebutuhan manusia. "Mc Clelland" membagi dasar motivasi menjadi : Bersahabat, berkuasa dan berprestasi. Apapun teori motivasinya, pada dasarnya motivasi adalah "suatu hal yang dapat menggerakkan kita bersikap dan melakukan tindakan"

Oleh karena itu sangatlah penting untuk dapat menemukan faktor utama motivasi kita, coba anda berhenti sejenak dan memikirkannya (bila anda belum mampu menemukan motivasi utama diri anda). Cara lain yang dapat kita lakukan untuk menemukannya adalah dengan merenungkannya dan bertanya jauh kedalam lubuk hati dan jiwa kita yang paling dalam "Who Am I ?" dan "Where am I Going ?"

Persoalan berikutnya yang perlu kita beri perhatian dan penekanan adalah bagaimana Menjaga dan Mengembangkan motivasi diri yang telah kita temukan tersebut. Mengapa menjadi penting ?, Karena kita mengetahui bahwa dalam perjalanan hidup kita tidak dapat selalu berjalan dengan mulus, ada saja gelombang, hambatan, godaan dan rintangan yang dapat menjadi hambatan bagi diri kita bahkan kadangkala membawa dampak negatif "menjadikan kita demotivasi dan terjatuh, hilang harapan akan tujuan yang telah kita tetapkan.

Bagi Orang yang ingin sukses, hal terpenting bukanlah
berapa kali kita jatuh atau gagal tetapi berapa kali kita mampu
bangkit.

Mari kita mulai saat ini meluangkan waktu untuk menemukan "Motivasi Utama" diri kita, temukan dan pastikan dan patrikan kedalam pikiran dan jiwa kita, setelah itu mari kita senantiasa "menjaga, memelihara dan terus dapat meningkatkan" motivasi utama tadi dalam keseharian di perjalanan hidup kita.

Sukses di puncak prestasi ... akan kita raih


10:43 PM | Posted in | Read More »