|

SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results)

Proses perencanaan strategis di luar analisis SWOT, yaitu pendekatan SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results), kita terbiasa dengan metodek pendekatan SWOT namun tidak salah bila kita mempelajari dan lebih dekat dengan konsep SOAR ini.

Mengapa harus beralih ke SOAR ? SWOT kita ketahui berprinsip pemetaan komprehensif, dari sisi kekuatan dan peluang yang berbanding dengan kelemahan serta ancaman. Tidak ada yang salah dari “pemotretan” demikian, sebagaimana best practice management selama ini. Namun penelitian pada Fortune 400 di dunia menemukan suatu hal perlu diprihatinkan. Kebanyakan kita terjebak pada upaya menyusun program (dan mengeluarkan biaya luar biasa) untuk mengatasi kelemahan, membentengi diri dari ancaman, sedemikian rupa hingga kita lupa sebuah solusi sederhana: hadapilah tantangan itu dengan modal yang sudah Anda miliki sebelumnya: kekuatan! Lebih memprihatinkan lagi, ternyata faktor kelemahan tidak selesai diatasi, sementara faktor kekuatan (yang tidak dipelihara oleh program yang berfokus pada kekuatan) semakin menyusut, dan makin melemahkan kita sendiri. Adakah yang lebih tragis dari itu ?

Selanjutnya pendekatan ini mulai dipopulerkan oleh David Cooperrider, dalam bukunya Introduction to Appreciative Inquiry (1995). Beliau sebelumnya sudah menulis dalam disertasi doktoralnya Appreciative Inquiry: Toward a Methodology for Understanding and Enhancing Organizational Innovation, di universitas Case Western Reserve, Ohio. Sehingga boleh dibilang, beliau adalah pelopor dan yang mempopulerkan pendekatan ini. Kelompok manajemen pun menyebutkan sebagai bagian dari Manajemen berbasis Kekuatan (Strength-based Management).

Pendekatan appreciative dimulai dengan melakukan penyelidikan (inquiry) yang biasanya menggunakan pertanyaan positif guna mempelajari kesamaan kekuatan, keunggulan, nilai-nilai bersama dan peluang potensial. Dalam fase ini, semua pandangan setiap anggota dihargai (appreciated). Selanjutnya, anggota tim dibawa ke dalam fase imajinasi dan ‘mimpi’ (dreaming), yakni merancang dan merencanakan masa depan yang diharapkan atau mau dibawa. Dalam fase ini, nilai-nilai bersama yang unggul diperkuat, harapan serta visi dibuat. Istilah kerennya envisioning result. Fase berikutnya adalah perancangan (design), yakni dimulainya rancangan sasaran jangka pendek, rencana taktis fungsional, rancangan struktur, program maupun sistem. Tujuannya mencari yang paling ideal bagi organisasi. Fase berikutnya adalah Fase aksi dan implementasi (destiny), dimana dilakukan langkah aksi untuk mentransformasikan apa yang sudah di’mimpikan’ dan dirancang untuk menjadi langkah nyata. Segala kebutuhan sumberdaya maupun jadwal waktu pencapaian dilakukan pada fase ini.

Menurut pencetusnya, penerapan metode appreciative ini mampu menghasilkan energi perubahan yang bertahan lama dan berkelanjutan (sustainable) , karena semuanya dibangun berlandaskan inti positif (positive core) dan menghargai kekuatan yang ada sekecil apapun. Sehingga lahirlah sebuah teknis analisis yang disebut SOAR (Strength, Opportunities, Aspiration, Result), sebagai alternatif pendekatan konvensional SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threat).

Seberapa jauh kekuatan analisis SOAR yang didasarkan pendekatan appreciative inquiry ini dibandingkan teknik yang sudah jauh lebih mapan yakni SWOT masih menunggu waktu. Namun, seperti halnya ilmu manajemen lainnya, kehadiran teknik SOAR akan memperkaya dan melengkapi teknik manajemen lainnya dalam analisa dan pengelolaan perubahan yang tentunya bisa saling melengkapi dan berkontribusi terhadap kemajuan organisasi.

Semoga dapat memperkaya khasanah pengetahuan management kita.

Source : From SWOT to SOAR

Posted by david pangaribuan on 11:22 PM. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response