|

Cerita Rakyat Pesona Sekar Langit



Air terjun Sekar Langit merupakan tetesan mata air yang berasal dari puncak gunung Telomoyo, gunung yang membatasi antara kota Salatiga dan kota Magelang di Jawa Tengah. Air terjun setinggi sekitar 30 meter ini, aliran air nantinya akan mengalir ke arah barat menuju ke aliran sungai Elo untuk nantinya bermuara di laut selatan Jawa.


Wilayah dimana air terjun ini berada, termasuk ke dalam wilayah Telogorejo, Magelang, Jawa Tengah. Warga sangat menghormati air terjun yang satu ini, hal ini lantaran sebuah runtutan kisah dongeng klasik dibalik pesona Sekar Langit.




Ya… disebut-sebut, air terjun Sekar Langit ini merupakan air terjun yang terdapat dalam dongeng legenda Joko Terub, seorang pria iseng yang mencuri selendang bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.
“Dari para orang tua dan sesepuh desa dahulu memang menceritakan seperti itu, bahwa air terjun Sekar Langit ini adalah air terjun yang ada dalam cerita legenda Joko Tarub, yaitu tempat dimana Joko Tarub mengintip bidadari yang mandi di air terjun,” terang Subandi (65), sesepuh kampung Telogorejo.


Dalam legenda rakyat ini menceritakan, Joko Tarub adalah seorang anak Bupati Tuban, Jawa Timur yang sejak kecil hidup dan tinggal di Desa Tarub, salah satu desa yang kini berada di wilayah Salatiga. Joko Tarub adalah seorang pemuda desa yang memiliki kegemaran, yaitu gemara berburu burung.
Suatu pagi, seperti biasanya Joko Tarub melaksanakan rutinitasnya berburu burung. Selama seharian keluar masuk hutan, namun burung buruan tak didapatkannya, hingga tibalah Joko Tarub di suatu rimba lebat di kaki Gunung Telomoyo.


Di hutan ini, bukannya suara kicauan burung yang didengarnya, namun sayup-sayup dari kejauhan Joko Tarub malah mendengar suara canda tawa para gadis di sela-sela suara gemercik air terjun.
Terbawa rasa penasaran, ditelusurilah arah suara itu berasal. Bukan kepalang terkejutnya Joko Tarub akan apa yang ditemuinya dari sumber suara itu, dilihatnya sekelompok gadis cantik sedang asik mandi tanpa mengenakan busana sehelaipun.


Dari balik bebatuan, pemuda ini pun mengintip pemandangan yang seumur hidup belum pernah disaksikannya tersebut, hingga kemudian munculah niat nakal Joko Tarub untuk mengambil salah satu dari beberapa pakaian berikut selendang yang tergeletak di bebatuan tak jauh dari tempatnya mengintip.
Matahari perlahan terbenam, pertanda senja mulai tiba. Para gadis-gadis cantik yang sedang bugil ini mulai menyudahi mandinya untuk segera bergegas menuju ke bebatuan tempat dimana pakaiannya diletakkan. Satu persatu, gadis-gadis ini mulai mengenakan pakaiannya masing-masing.
Setelah semua pakaian para gadis dikenakan, kain selendang pun diikatkan di pinggulnya. Satu persatu, gadis-gadis misterius ini mulai terbang dan melesat menuju langit. Diketahui, ternyata selendang yang dikenakan di pinggul para gadis tersebut adalah sebagai pengganti sayap yang dipergunakan untuk terbang menembus awan.
Baru disadari oleh Joko Tarub, bahwa ternyata gadis cantik yang semenjak tadi diintipnya itu adalah sekelompok bidadari dari kayangan yang sedang turun ke bumi untuk mandi di air terjun yang kini disebut air terjun Sekar Langit ini.


Tak sia-sia Joko Tarub mencuri pakaian dan selendang dari salah satu bidadari jelita tersebut. Ini artinya, Joko Tarub akan berhasil memiliki satu diantara para makhluk cantik penghuni khayangan ini, karena pastilah akan ada salah satu bidadari yang tidak bisa pulang kembali ke khayangan.
Benar, semua bidadari telah terbang kembali ke khayangan, tinggal satu bidadari saja yang masih tertinggal di air terjun belantara ini, lantaran pakaian dan selendangnya telah dicuri oleh Joko Tarub tadi. Bidadari malang ini bernama Nawang Wulan.


Bak seorang dewa penolong, tiba-tiba Joko Tarub muncul dari balik bebatuan untuk menemani kegelisahan Nawang Wulan. Ditengah kebingungannya, akhirnya Nawang Wulan menerima ajakan Joko Tarub untuk diajak pulang ke rumah Joko Tarub.
Sesampainya di rumah, Joko Tarub bergegas lari ke lumbung padi yang terletak di belakang rumahnya. Segera, Joko Tarub menyembunyikan pakaian serta selendang milik Nawang Wulan yang dicurinya tadi.
Setelah cukup lama dua sejoli ini hidup tanpa ikatan dalam satu rumah, akhirnya Joko Tarub pun menikahi Nawang Wulan. Dari pernikahan antara manusia dengan bidadari ini akhirnya terlahir seorang bayi perempuan bernama Nawangsih.
Sebagai makhluk khayangan, ternyata Nawang Wulan memiliki kesaktian, yaitu mampu merubah setangkai padi menjadi nasi sebakul. Jadi, untuk mencukupi kebutuhan makan nasi sekeluarga, Nawang Wulan hanya cukup membutuhkan setangkai padi saja yang dimasukan ke dalam sebuah bakul yang ditutup untuk nantinya akan menjadi nasi.


Namun pada suatu hari kesaktian Nawang Wulan ini akhirnya hilang. Pagi itu, Nawang Wulan akan berangkat ke sungai untuk mencuci pakaian. Sebelum berangkat, wanita cantik ini berpesan kepada Joko Tarub suaminya untuk sementara mengasuh Nawangsih di rumah dan jangan sekali-kali membuka bakul nasi sebelum dirinya pulang.


Hari mulai siang, Nawang Wulan tak kunjung pulang, sedangkan Nawangsih menangis terus-menerus. Joko Tarub pun kebingungan, dirinya lantas membuka bakul hendak mengambil nasi untuk menyuapi Nawang Wulan. Bukannya nasi yang didapat, namun Joko Tarub hanya menemukan setangkai padi dalam bakul nasi tersebut.
Sampainya di rumah, Nawang Wulan melihat bakul nasi telah terbuka. Kecewanya Nawan Wulan kepada Joko Tarub yang tidak mengindahkan larangannya. Ini artinya kesaktian yang dimiliki Nawang Wulan akan hilang.
Setelah kejadian itu, hampir setiap hari Nawang Wulan harus mengambil beras di lumbung belakang rumah untuk ditanaknya menjadi nasi. Sehingga untuk membuat nasi, dirinya harus menanak nasi sendiri, tanpa bisa menggunakan kesaktiannya.


Lama kelamaan padi di lumbung pun kian menyusut. Pada suatu hari, di sela-sela tumpukan padi bagian paling bawah, Nawang Wulan menemukan sebuah bungkusan kain berisi pakaian dan kain selendang miliknya yang ketika dahulu hilang saat mandi di air terjun bersama teman-taman bidadari.
Baru disadari Nawang Wulan, ternyata selama ini dirinya telah dibohongi oleh suaminya, bahwa sesungguhnya pakaian dan selendangnya tidaklah hilang, melainkan dicuri dan disembunyikan oleh Joko Tarub hingga membuat dirinya tidak bisa pulang ke khayangan.


Dikenakanlah kembali pakaian bidadari berikut selendang miliknya, segera berubahlah Nawang Wulan ke wujud aslinya, yaitu bidadari. Dalam kemarahannya, Nawang Wulan menemui Joko Tarub dan bersumpah untuk meninggalkan bumi dan akan tinggal kembali ke khayangan serta untuk selamanya tidak akan menemui Joko Tarub.


Nawang Wulan juga meminta Joko Tarub untuk dibuatkan sebuah dangau, yaitu gubuk bambu kecil yang tertutup rapat. Jika Nawangsih menangis, maka Joko tarub harus meletakkan anak mereka ini di dangau. Jika suara tangis itu sampai ke khayangan, maka Nawang Wulan akan turun ke bumi untuk menyusui dan menidurkan Nawangsih.


Sepeninggal Nawang Wulan, tinggalah Joko Tarub seorang diri yang merawat Nawangsih. Setiap kali putrinya ini menangis, tak lupa Joko Tarub selalu ingat pesan istrinya untuk meletakkan putrinya di dangau.
Joko Tarub hanya bisa meratapi serta mendengarkan suara merdu Nawang Wulan yang sedang menyusui dan menyanyikan lagu tidur untuk Nawangsih dari balik bilik bambu tersebut, tanpa bisa memandang wajah cantik Nawang Wulan sedikitpun.


Seiring berjalannya waktu, umur Nawangsih telah beranjak besar dan tidak menyusui lagi. Ini berarti, Nawang Wulan tidak akan turun ke bumi lagi untuk menyusui dan menidurkan putrinya di dangau. Berarti pula, untuk selamanya Joko Tarub tidak bisa mendengar lagi suara merdu Nawang Wulan istrinya.

Posted by Unknown on 8:20 AM. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response