In politics, everything is possible

"In politics, everything is possible", demikian pernyataan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam persaingan kembali menjadi Presiden Republik Indonesia 2009-2014. kata SBY dalam jumpa pers dengan wartawan di kediamannya, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/4/2009).

SBY tampak sangat hati-hati menjawab pertanyaan tentang kemungkinan koalisi dengan PDIP. Ia sempat terdiam sejenak. Meski kemungkinan berkoalisi dengan PDIP kecil, SBY tidak menutup peluang sama sekali. Menurut SBY, segalanya mungkin dalam politik sehingga seluruh komponen bangsa apapun masa lalunya bisa saja bekerja sama untuk kepentingan bangsa.

"Apakah nanti di masa depan bisa bersama lagi, itu terserah rakyat. Itu kuasa Tuhan, apakah akan berkerjasama lalu kompetisi dan kemudian oposisi lagi, segalanya masih mungkin, " kata SBY.

Namun SBY kembali mengingatkan, untuk berkoalisi dengan PDIP harus bersikap realistik. "Kita serahkan pada perjalanan sejarah. In politics, everything is possible, tapi harus realistik," tegas SBY.

5:21 PM | Posted in | Read More »

Quick Rewards Network

A great site which pays me this payout within hours...!!the features of this sites are blow....!!

PAYOUT WITHIN 24 HOURS


- Membership is absolutely free
- Get paid to shop online, visit websites, take surveys, sign up for offers, play games, print grocery coupons, read emails and much more!

- No minimum cash out for PayPal or choose from over 50+ Gift Certificates starting $5.
- Most payments are processed within 24 -48 hours or less.
- QR features over 250+ offers and our shopping section contains over 1,300 stores.
- Friendly and quick customer service

Thousands of members used QuickRewards since 2002. With no minimum cash out policy paid within 24-48 hours you really have no reason not to try it. Join QR today!

9:20 PM | Posted in | Read More »

Marketing in Crisis (2) by Rhenald Khasali


Ini merupakan lanjutan dari Marketing in Crisis (1) ada baiknya anda membaca terlebih dahulu Marketing in Crisis (1).

BANYAK berita dan kejadian ekonomi yang membuat kita harus waspada. Di satu pihak nasihatnasihat perekonomian itu datang dari para pakar ekonomi makro dan analis - analis keuangan, di lain pihak dunia usaha berjalan pada mata rantai bisnis (ekonomi mikro manajemen).


Keduanya memiliki unit analisis, cara bekerja, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, ada halhal yang dirasakan sama, namun dalam banyak hal keduanya menafsirkan masa depan dengan kacamata berbeda. Demikian juga dalam mengambil hikmah dari krisis keuangan global yang menghantui kita. Makro untuk Negara Perekonomian makro pada dasarnya adalah perekonomian negara.

Para pakar ekonomi berupaya keras menghitung dan menyajikan data tentang perekonomian agar pemerintah waspada terhadap krisis. Sebab,kalau uang dan kebijakan negara salah urus efeknya bisa merembet ke dunia usaha dalam bentuk penutupan perusahaan,pengangguran, penurunan daya beli, dan hilangnya gairah investasi, atau malah pelarian modal dan tenaga ahli ke luar negeri. Meski analisis itu dapat berakibat pada perusahaan-perusahaan, namun nasihat mereka pertama- pertama ditujukan kepada pemerintah

Analisis dan modelmodel ekonomi makro dan keuangan menggunakan landasan berpikir neoklasikal yang didasari asumsi-asumsi tertentu, simplifikasi, agregasi, dan tentu saja berbasiskan angka.Teori ekonomi sebenarnya sangat erat dengan matematika, sehingga tak mengherankan kalau ilmu ini sering disebut sebagai ratunya ilmu-ilmu sosial (the queen of social science). Supaya model-modelnya dapat dibangun, diasumsikan manusia mampu bertindak rasional. Dengan keahlian itu,seseorang penyandang gelar sarjana ekonomi dalam bidang makro mampu meneropongperekonomianbangsanya dan memberi saran-saran koreksi.

Apalagi menyangkut soal anggaran, kebijakan moneter dan fiskal, jelas diperlukan disiplin dari penyelenggaraan negara. Tanpa kehadiran ekonom, negara bisa bergerak tanpa arah,tidak ada disiplin; dan perekonomiannya kacau-balau. Demikian pulalah dalam menghadapi krisis perekonomian atau keuangan global.Selalu ada impact antara kebijakan yang diambil negara terhadap nilai mata uang, kenaikan harga-harga, serta pengangguran. Kendati demikian, fokus analisis dan nasihat-nasihatnya terutamadiarahkanke pemerintah.

Perilaku Pasar dan Perusahaan Pasar dan perusahaan lain lagi perilakunya. Kadang mereka berpikir dan bertindak rasional, kadang kurang rasional, bahkan mengikuti emosi dan intuisi mereka. Dalam banyak hal,perusahaan harus memahami kondisi perekonomian makro negaranya.Namun dalam hal lain mereka harus menguasai juga perilaku-perilaku nonrasional konsumen dan eksekutif-eksekutifnya.


Meski kurang enak disebut irrational, demikianlah para rationalist atau kaum penganut formal logic menyebutnya. Hanya sekali saja seorang ilmuwan, yaitu Herbert Srinon, yang membela mereka, yaitu ”bukan tidak rasional”, melainkan Bounded rationality, yaitu adanya tekanan-tekanan waktu dan kurangnya informasi yang dihadapi para eksekutif dalam mengambil keputusan, sehingga seakan-akan tidak rasional (kalau diukur oleh mereka yang tidak punya keterbatasan-keterbatasan itu).

Demikian pula unit yang ditangani perusahaan, bukanlah negara, bukan uang milik banyak orang, melainkan uang segelintir orang yang tidak diawasi parlemen dan politik. Mereka adalah pengambil risiko (bukan birokrat),yang bergerak responsif, lebih bebas, dan mandiri. Selain itu kalau orang-orang makro membaca data agregatif (total, menyeluruh), maka dunia usaha melihat dalam kacamata yang lebih terbatas. Yaitu pada kacamata segmen pasar yang dikuasainya, dalam jangkauan geografis tertentu.

Dengan demikian, dari kacamata makro tidak pernah tersentuh perbincangan segmentasi atau merek,cukup sampai kategori saja. Misalnya pada 2009 diramalkan pasar penjualan automotif akan jatuh dari 600.000 unit menjadi 400.000 unit. Itulah proyeksi makro. Bagaimana mikronya? Beberapa merek mobil tertentu, seperti mobil-mobil mewah (Mercedes, Volvo,BMW,Audi) mungkin akan langsung drop.

Namun mungkin tidak bagi Toyota,Daihatsu,atau merek-merek menengah lainnya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena produk-produk itu diperdagangkan oleh para profesional dan entrepreneur yang belum tentu rela membiarkan penjualannya turun. Mereka bisa dengan cepat bermanuver,mengubah struktur biaya (down costing),menciptakan merek-merek dan varianvarian baru yang lebih murah, menyajikan cara pembayaran insentif pada tenaga penjual dan seterusnya, menyajikan cara pembayaran baru, menggerakkan stimulus- stimulus tertentu, mencari pasar-pasar baru, memberi insentif pada tenaga penjual dan seterusnya.

Sementara itu, merek-merek kelas atas sangat sulit bermanuver karena terikat dengan ketentuan prinsipalnya di luar negeri. Kenyataan inilah yang membuat pusing para ekonom, mengapa mikroekonomi mulai kurang sejalan dengan kondisi makroekonomi yang dibaca dengan penuh kehati-hatian? Benarkah manusia Indonesia mulai kehilangan daya nalarnya, menjadi tidak rasional dalam berbelanja ? Bahkan banyak sekali pertanyaan seperti berikut ini: Mau diapakan juga, kalau daya beli tidak ada, tetap saja tidak ada yang membeli.

Untungnya orang-orang bisnis yang optimistis tetap saja bisa menguras kocek cadangan konsumennya. Seakan-akan mereka mau bilang, ”Ini lho, yang penting itu keinginan mereka (untuk membeli), bukan daya belinya.” Menggairahkan Keinginan Berbelanja Kepusingan membawa ketidakselarasan ekonomi makromikro di sini tentu memerlukan studi lebih mendalam untuk mengetahuinya lebih jauh.

Sebuah tulisan yang diturunkan Direktur The Nielsen Indonesia Yongky Susilo di harian ini (30/3) menunjukkan gejala itu. Bagaimana mungkin, studi pada 2008, saat harga energi dan bahan makanan melambung naik, menunjukkan hanya 13% konsumen yang percaya bahwa perekonomian Indonesia akan membaik, namun seluruh penjualan ritel Indonesia sepanjang 2008 melonjak fantastis.Yongky mencatat, kendati trip belanja menurun, hasil penjualan ritel naik 21%, sehingga Indonesia menempati peringkat ke-2 di Asia-Fasifik.

Semua produk, dari kopi, minuman kesehatan, busana, sampai mobil dan motor,naik signifikan. Ketika para ekonom makro menyajikan data-data yang menakutkan, konsumen kita justru berbelanja lebih banyak.Berbekal kenyataan di tahun 2008, sejumlah riset pun menyajikan fakta baru: Tahun ini indeks keyakinan konsumen masih naik terus. Artinya, konsumen masih melakukan spending. Tetapi menarik juga disimak perbincangan di kalangan produsen-produsen tertentu.Ada tendensi sejumlah produsen mulai kecut.

Kekecutan mereka juga dapat dilihat dari indeks tren bisnis yang bulan Februari lalu dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).Di situ disebutkan, kendati indeks keyakinan konsumen merangkak naik, indeks tren bisnis atau semacam indeks keyakinan produsen, malah menunjukkan penurunan. Pikiran-pikiran mereka sebenarnya sama dengan pikiran sejumlah eksekutif yang terlihat loyo beberapa bulan ini.Mereka selalu mengatakan ”suasana sangat sulit karena sedang terjadi krisis.

”Mereka inilah yang mulai mengurangi stok barang,menunda pembayaran dan mengurangi kiriman barang ke jaringan distribusi.Penjualan produk mereka benar-benar drop. Di lain pihak,pada kategori produk yang sama, belakangan ini juga sering bertemu dengan orangorang yang bersahabat dengan krisis. Mereka berulang kali mengatakan pada saya, ”Crisis is a friend of mine.”Maka,kendati pasar itu benar-benar sulit, mereka terlihat tetap bersemangat, mencari cara-cara baru dalam pemasaran dan dan produksi,serta kreatif menembus kesulitan. Ada semacam ”self therapy” yang melekat pada orang-orang yang kedua tadi.

Itulah sebabnya dibutuhkan sales therapy, bahkan marketing therapy untuk memperbaiki dan membangun kembali pasukan pemasaran dan para eksekutif barang-barang konsumsi Indonesia yang mulai loyo mendengar kata krisis yang berulangulang disampaikan para pemimpin yang meng-hipnosemereka.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM–UI


8:12 PM | Posted in | Read More »

Living Without Limits

Article by Brian Tracy *

The starting point of great success and achievement has always been the same. It is for you to dream big dreams. There is nothing more important, and nothing that works faster than for you to cast off your own limitations than for you to begin dreaming and fantasizing about the wonderful things that you can become, have, and do.

As a wise man once said, “You must dream big dreams, for only big dreams have the power to move the minds of men.” When you begin to dream big dreams, your levels of self-esteem and self-confidence will go up immediately. You will feel more powerful about yourself and your ability to deal with what happens to you. The reason so many people accomplish so little is because they never allow themselves to lean back and imagine the kind of life that is possible for them.

A powerful principle that you can use to dream big dreams and live without limits is contained in what Elihu Goldratt calls the “Theory of Constraints.” This is one of the greatest breakthroughs in modern thinking. What Goldratt has found is that in every process, in accomplishing any goal, there is a bottleneck or choke cord that serves as a constraint on the process. This constraint then sets the speed at which you achieve any particular goal.

What Goldratt found is that if you concentrate all of your creative energies and attention on alleviating the constraint, you can speed up the process faster than by doing any other single thing.

Let me give you an example. Let us say that you want to double your income. What is the critical constraint or the limiting factor that holds you back? Well, you know that your income is a direct reward for the quality and quantity of the services you render to your world. Whatever field you are in, if you want to double your income, you simply have to double the quality and quantity of what you do for that income. Or you have to change activities and occupations so that what you are doing is worth twice as much. But you must always ask yourself, “What is the critical constraint that holds me back or sets the speed on how fast I double my income?”

A friend of mine is one of the highest-paid commission professionals in the United States. One of his goals was to double his income over the next three to five years.

He applied the 80/20 rule to his client base. He found that 20 percent of his clients contributed 80 percent of his profits, and that the amount of time spent on a high-profit client was pretty much the same amount of time spent on a low-profit client. In other words, he was dividing his time equally over the number of tasks that he does while only 20 percent of those items contributes 80 percent of his results.

So he drew a line on his list of clients under those who represented the top 20 percent and then called in other professionals in his industry and very carefully, politely, and strategically handed off the 80 percent of his clients that only represented 20 percent of his business. He then put together a profile of his top clients and began looking in the marketplace exclusively for the type of client who fit the profile; in other words, one who could become a major profit contributor to his organization, and whom he in turn could serve with the level of excellence that his clients were accustomed to. And instead of doubling his income in three to five years, he doubled it in the first year!

So what is holding you back ? Is it your level of education or skill ? Is it your current occupation or job? Is it your current environment or level of health? Is it the situations that you are in today? What is setting the speed for you achieving your goal?

Remember, whatever you have learned, you can unlearn. Whatever situation you have gotten yourself into, you can probably get yourself out of. If your real goal is to dream big dreams and to live without limits, you can set this as your standard and compare everything that you do against it.

The three keys to living without limits have always been the same. They are clarity, competence, and concentration.


Clarity means that you are absolutely clear about who you are, what you want, and where you’re going. You write down your goals and you make plans to accomplish them. You set very careful priorities and you do something every day to move you toward your goals. And the more progress you make toward accomplishing things that are important to you, the greater self-confidence and self-belief you have, and the more convinced you become that there are no limits on what you can achieve.

Competence means that you begin to become very, very good in the key result areas of your chosen field. You apply the 80/20 rule to everything you do and you focus on becoming outstanding in the 20 percent of tasks that contribute to 80 percent of your results. You dedicate yourself to continuous learning. You never stop growing. You realize that excellence is a moving target. And you commit yourself to doing something every day that enables you to become better and better at doing the most important things in your field. Concentration is having the self-discipline to force yourself to concentrate single-mindedly on one thing, the most important thing, and stay with it until it’s complete.

The two key words for success have always been focus and concentration.
Focus is knowing exactly what you want to be, have, and do. Concentration is persevering, without diversion or distraction, in a straight line toward accomplishing the things that can make a real difference in your life.

When you allow yourself to begin to dream big dreams, creatively abandon the activities that are taking up too much of your time, and focus your inward energies on alleviating your main constraints, you start to feel an incredible sense of power and confidence. As you focus on doing what you love to do and becoming excellent in those few areas that can make a real difference in your life, you begin to think in terms of possibilities rather than impossibilities, and you move ever closer toward the realization of your full potential.

* Motivational Speaker, Businessman & Self Help Author
Brian Tracy is a leader in the field of human development. He is a millionaire, entrepreneur, businessman, author, and motivational speaker.

1:21 AM | Posted in | Read More »

Daftar Orang Terkaya di Dunia di 2009


Sepuluh billionaires terkaya di dunia menurut majalah bisnis Forbes pada tahun 2009.

1. Bill Gates, $ 40 miliar (Terkaya Amerika)
2. Warren Buffett, $ 37 miliar (American billionaires)
3. Carlos Slim Helu, $ 35 miliar (Terkaya Meksiko)
4. Lawrence Ellison, $ 22,5 miliar (Amerika bilyuner)
5. Ingvar Kamprad, $ 22 miliar (Swedia Terkaya)
6. Karl Albrecht, $ 21,5 miliar (Terkaya di Jerman)
7. Mukesh Ambani, $ 19,5 miliar (Terkaya di India)
8. Lakshmi Mittal, $ 19,3 miliar (India bilyuner)
9. Theo Albrecht, $ 18,8 miliar (Jerman bilyuner)
10. Amancio Ortega, $ 18,3 miliar (Terkaya di Spanyol)

Baca artikel lengkapnya ya dari Forbes tuh ...

On March 11, 2009, Forbes released it's most recent list of the world's wealthiest people. The annual list of billionaires shrank from 1125 in 2008 to 793 in 2009. Furthermore, the average net worth of the billionaires on the list dropped 23% over the previous 12 months to $3 billion per individual.

Americans dominated the billionaire list this year, carrying 45% of the list's slots and holding 44% of the wealth on the Forbes list. Economic declines in the last part of 2008 are partially to blame for the decline in both wealth and number of billionaires on the March list with some individuals losing 50% or more of their net worth over the last 12 months. Overall, the collective net worth of the richest people is estimated around $2.4 trillion, a whole $2 trillion lower than last year's list.

The top two slots remained the same as previous years, although the two top billionaires did switch positions from last year's list. Microsoft founder Bill Gates regained the #1 position followed closely by Berkshire Hathaway founder Warren Buffett, last year's leader, in the second slot. Bill Gates was estimated to have a net worth of $40 billion, down $18 billion from last year's list. Warren Buffett, last year's top billionaire, lost approximately $25 billion in net worth to end at $37 billion for this year's list. The number three spot went to Carlos Slim Helu, the Mexican telecom mogul, who lost $25 billion to end with a net worth of $35 billion.

The remaining top ten spots on the 2009 Forbes billionaire list went to Lawrence Ellison, Ingvar Kamprad, Karl Albrecht, Mukesh Ambani, Lakshmi Mittal, Theo Albrecht, and Amancio Ortega respectively. Members of the Walton family, heirs to the Walmart chain of stores, remained on the list in positions eleven through fourteen.

Almost all of the billionaires on the list lost money over the previous year. India's Anil Ambani, head of Reliance Communications, was the biggest loser with a total loss of 76% of his fortune equalling $32 billion. Ambani did stay on the billionaire list, however, unlike 29 other Indian business owners who disappeared from this year's list. 24 Indian billionaires remained on the list, however, but most of them lost large percentages of wealth over the course of 2008.

Much like India, Russia lost most if its billionaires during 2008, too. 55 Russian billionaires dropped off this year's list, two-thirds of the number that were on the Forbes billionaire list last year. Among the lost wealth was Vasily Anisimov whose fortune plummeted with the value of Metalloinvest Holding. His daughter, Anna Anisimova, is known for being the "Paris Hilton" of Russia.

Some of the billionaires from Forbes 2008 list lost almost all of their fortune. Among them was AIG head Maurice Greenberg and former Citigroup Chairman Sandy Weill, both of whom lost most of their wealth after their respective bank failures and government bailouts.

Despite massive loss of wealth, there were a few individuals that flourished in 2008 Joaquin Guzman Loera, a cocaine supplier, Wang Chuanfu, whose company began selling electric cars in late 2008, and John Paul Dejoria, founder of Paul Mitchell and Patron Tequila, all prospered over the last twelve months, showing the rest of the world that there is still hope in finding worthy investments in a failing global economy.


9:26 AM | Posted in | Read More »

The Twelve Golden Principles Of Selling

By Jonathan Farrington on May 05, 2008.

I received a call from an ex-student this week who is designing an induction program for new recruits about to embark upon a career in sales. He asked that if I had to create the "12 golden principles of selling," what would I come up with?

Clearly, this is not only a very subjective view, but also I found it terribly difficult to reduce my initial list of the essential rules of selling to just 12. However, mindful of the fact that this exercise is designed to provide guidance to salespeople just starting on the first rung of the ladder, here is my take on the 12 golden principles of selling.

Principle 1: Always Sell to People
This may seem obvious, but it cannot be emphasized enough: You are not selling to an organization or to a conglomerate, but to actual, real people. It is important to remember that all people are different, so you cannot sell the same way to everyone.

Second, no two sales are the same, even if they are made to the same company under similar circumstances.

To become a good salesperson, it isn't enough to know how to sell. You must aim to become a people expert. It may sound shocking, but the best professional salespeople actually like people!

Remember, people buy from people -- they always will.

Principle 2: You Have To Sell Yourself
Just as you are selling to people, you must also remember that you are not only selling and representing a product or service, but you are in effect selling yourself. When beginning a sales relationship, it is important to remember a few key aspects to representing yourself well.
First, be interesting. If potential customers are bored by you, they have less of a chance of being enthralled by any product or service you are representing.

Develop intellect. Of course, you are an intelligent person, but can you converse in an intelligent manner? Can you discuss related subjects with thoughtfulness and hold your clients' interest?

Never be arrogant -- never talk up or down to your potential clients. It's rude and will serve only to alienate them. Respect the buyer, and they will respect you.

Along the same lines, develop your empathy levels. If you can relate to your customers' situations authentically, it helps to build rapport. Finally, control your ego levels. A good salesperson is patient and respectful, not an egomaniac.

Principle 3: You Must Ask Questions
A good salesperson knows what questions to ask, and when. Develop your questioning techniques, always remembering the traditional rules of questioning: What? Where? When? Which? Why? Who? And how?

Continually test your understanding of the situation by asking questions and verifying that everybody's on the right track.

Principle 4: Listen To Understand
Remember, God has given us two ears and one mouth; we should use them in that order! Successful sales professionals talk for 20 percent of the time and listen for 80 percent of the time. It's crucial for new salespeople to develop their active-listening skills.

Principle 5: Features Must Be Linked to Benefits
It's a standard sales component, but the features-and-benefits connection bears repeating and reminding: Features are common, but benefits are personal and specific. When describing the product or service you are selling, use "link phrases" when outlining the benefits of the features you are showing. Say, "Such and such is a feature of this service, which means that . . .' Remember to be specific.

Principle 6: Sell the Results -- Paint a Picture
You want the outcome for your prospect to be rosy, but you need to convey that. Discover your prospect's "prime desires," and personalize the benefits to him or her. Describe the end results of the transaction and how it will improve the life of your prospect.

Principle 7: You Cannot Rely On Logic
Emotion drives 84 percent of all buying decisions, not logic. What are the chief buying emotions? They include ego, security, pride of ownership, greed, health, prestige, status, ambition, and fear of loss. Be well aware of these emotions as you approach, engage and deal with your customers.

Principle 8: Selective Product Knowledge Is the Key
A good salesperson realizes that buyers buy solutions and results; they do not buy products or services. Know the specific aspects of your product or service that will create your client's desired result.

Principle 9: Aim To Be Unique
You want to convey to your customers an attitude of "me first," rather than "me too."

Every business, every company, every product has something that is unique, and this is what you need to stress. Look outside the square, and identify the uniqueness of your product, your service, your company -- and yourself.

Principle 10: Don't Sell on Price
Selling on price is simply a cop out. You must value your expertise, your products and your services, and price accordingly. Always keep the bottom line firmly in your mind.

Remember, anyone can give business away. Selling merely on price means we do not need sales people!

Principle 11: Present Your Solutions
When we present our proposals, rather than mailing, faxing or e-mailing, we increase the likelihood of a sale by a factor of 10 if we do so in person.

Principle 12: Be Professional at All Times
The greatest compliment a customer can pay you is to describe you as "professional." Don't worry about being liked -- be respected.

Being professional is not one thing, it is three: It is what you do, what you say, and how you present yourself.

11:40 AM | Posted in | Read More »

Menjawab pertanyaan tentang Harga dan Biaya dari Prospek

Setalah melakukan presentasi dan konsultasi kepada prospek, salah satu masalah yang paling krusial bagi orang-orang dalam bidang penjualan adalah bagaimana menangani calon pelanggan yang ingin tahu atau bertanya langsung "Berapa besar biaya yang kita kenakan atau bebankan? Berapa besar uang yang harus saya keluarkan ? "

Diskusi bergulir sekitar uang sangat sulit untuk kebanyakan orang tanpa memandang latar belakang, pekerjaan, jabatan atau usianya, Situasi seperti ini kelihatan mudah namun tidak seperti itu adanya.



Berapa banyak proses penjualan kita terhenti oleh karenanya. Untuk itu kita sebagai orang-orang yang bergerak dibidang penjualan …itu adalah pekerjaan kita, sebagai profesional penjualan kita harus mampu menanganinya agar semuanya tetap baik dan berhasil.

Bila saat ini calon pelanggan kita langsung menanyakan tentang biaya atau harga pada pertemuan awal, kita tidak harus merasa takut dan khawatir secara berlebihan, atau langsung berkata dan tanpa berpikir, “murah kok Pak, Harga bisa ditawar, Lagi ada program discount dan hadiah Pak, Bisa dibayar bebera kali “, atau banyak contoh lainnya. Kita harus paham dan yakin akan , ada hal lain yang menjadikan harga bukanlah semata yang menetukan akan keberhasilan penjualan kita. Sering orang-orang penjualan terjebak dalam situasi seperti ini, sehingga kita bertindak seperti diatas.

Ketika seorang klien atau calon pelanggan (prospek) menanyakan semua tentang harga , Prospek kita mengatakan bahwa mereka tertarik membeli apa yang kita jual. Sekali lagi awas jangan terjebak atau anda terlalu takut akan situasi seperti ini, sering kita takut kehilangan potensi penjualan ini dan biasanya langsung dengan memberikan mereka akan harga. Proses negoisasi sangat membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik. Skill dalam tahapan negoisasi akan sangat menentukan keberhasilan.

So … apa yang harus saya lakukan ?

Hanya ada sembilan kata yang Anda butuhkan saat menjawab pertanyaan tentang harga atau biaya . Tenang dan percaya diri menyampaikannya kepada prospek, "Mengenai biaya atau harga itu sangat dipengaruhi banyak factor Pak”. Sebelumnya, Biarlah saya mengajukan beberapa pertanyaan ...." Kemudian lanjutkan untuk menanyakan atau menhajukan pertanyaan yang mendalam pada prospek tersebut, ini yang akan membantu kita untuk dapat mengetahui kebutuhan dia, gali dan temukan masalah yang dihadapinya, pastikan prospek kita memahami gagasan tentang sukses atau keberhasilan, dan mendapatkan informasi tentang mengapa dia ingin membeli atau menggunakan jasa kita. Menggali kebutuhan pelanggan sangat penting, untuk itu dibutuhkan kemampuan dalam hal ini. Kita akan sampai pada kesimpulan “apa yang kita tawarkan merupakan solusi bagi prospek kita atau sebaliknya.

Tanpa mengetahui informasi dasar di atas, jangan pernah kita berbicara akan harga dan biaya. Jangan buru-buru menemui atau mendiskusikan harga kepada Prospek, sampai kita memiliki semua informasi penting dan memikirkannya, barulah kita masuk dalam proses membicarakan harga atau biaya.

Semoga bermanfaat, sukses dalam menjual ....,

11:40 AM | Posted in | Read More »

Do Great Sales People Make Good Sales Managers ?



“Good sales people make good sales managers.” It went on to ask the characteristics of good sales managers. The question struck a chord, a dissonant one, provoking me to respond. I’m sure I have missed a lot of characteristics of great sales managers, and would ask for your addition, deletions, edits. Here’s my response and the list I started with:

Great sales people are sometimes the worst sales managers. Likewise, some mediocre sales people end up being stellar sales managers.


There is a long list of leadership skills/traits that are important for managers. I will stay away from repeating these.

Some specific areas that I think are often overlooked for sales managers:

1. Very process oriented. Today's sales manager cannot be involved in every deal, issue or transaction. They have to have a strong process in place, make certain their people understand and are executing the process. The sales manager has to continually monitor the process, taking deep dives in problem areas to help their people address them.

2. Disciplined and performance oriented. Closely tied to the previous point, the sales manager must have a strong focus on performance and performance improvement. This requires having the right metrics in place, making sure people understand what they are accountable for, giving them the opportunity to perform, being there to coach them when they have problems, and being prepared to take the appropriate actions if performance problems are not resolved.

3. Loyalty to the organization and their people. The sales manager is often caught between a rock and a hard place---the objectives of the organization sometimes come into conflict with what is best for the team. Effective sales managers are actively involved in setting organizational strategies and priorities (at least in terms of sales) and engage the sales people in executing them--though they may resist---which requires strong engagement and coaching. At the same time, sometimes the "organization" is insensitive to the sales people. The sales manager needs to defend the sales people to the organization, making sure they are heard.

3. Strong business orientation and focus. Make the right business decisions—both for the customer, for the sales organization, and for the business. Understanding how businesses work and what drives them.

4. Incessantly customer focused. If I have to say more, then we really don’t understand the point of professional selling.

5. Incessantly curious---driven to learn and improve. Incessantly curious about solving customer problems. Incessantly curious about the art and science of professional selling—driven to improve the performance of each individual in the organization, the organization as a whole, his own personal performance, and the business. This means they probably spend much more time asking questions and listening then they do talking.

6. Appropriately compassionate. Understand what drives people—customers, sales people, support people, others in the organization. Able to understand their points of view and what drives them. Able to communicate and work with them in a matter that demonstrates respect and trust. At the same time, able to make tough decisions—but with compassion based on the impact on individuals.

7. Able to sublimate their egos. Sales management is about leadership, growing and developing people, growing and developing the organization, growing and developing the business. It is not about how great you are and your past victories. It requires admitting you are wrong when you are. It requires being able to change your point of view.

8. Problem solvers. Driven by solving problems, finding ways to overcome obstacles, not being wed to the past. Creative and innovative in adapting new approaches to address issues and improve the business.

9. High energy. Constantly moving forward, setting strong examples for everyone around. Note, I am not saying high activity, high meeting orientation. High energy is different than meaningless activities.

10. Value, principle driven. Without a strong value system, a manager has no context in which to make decisions and drive the organization. Without sticking to the values and principles, the organization will wander and not produce results.

11. Thoughtful, reflective, good sense of humor. Self explanatory.

12. Able to leap tall buildings without tripping. Sales managers don’t need to have a big “S” on their chests, but they need to inspire and motivate others.

I’m sure I’ve missed some and could go into much more detail on each item. But I look for all of these in hiring great sales managers!

What would you add ? Are there any you would eliminate ?

Source : Sales Management 2.0

10:14 PM | Posted in | Read More »

Marketing In Crisis (1) by Rhenald Kasali

Sumber : Harian Sindo

GEJALA krisis, meski sayup sayup, mulai tampak di negeri ini.Selain aspek-aspek fundamental, indikator yang paling jelas adalah penurunan konsumsi listrik.

Pada Desember 2008, misalnya, pemakaian listrik di Pulau Jawa telah merosot 12,5% dari konsumsi bulan-bulan sebelumnya. Penurunan konsumsi energi menunjukkan utilitas produksi sektor manufaktur telah turun, terutama di kalangan produsen yang berorientasi ekspor dan penghasil barang-barang yang konsumsinya dapat ditunda seperti barang elektronik, sepatu, fesyen, furnitur, dan automotif.

Karena menyerang konsumsi, jelas marketing di masa krisis berbeda dengan marketing di saat tumbuh. Pada saat krisis, akan ditemui konsumen yang pesimistis, enggan melakukan pengeluaran, menunda pembayaran, mengurangi pemakaian kredit, gelisah, dan banyak mengeluh. Sebaliknya di masa ekonomi sedang tumbuh, Anda melihat konsumen ceria dan optimistis, berani mengambil kredit, dan cenderung melakukan spending. Karena itulah marketing in crisis perlu diterapkan saat ini.


Terapi Produsen

Berbeda dengan para ekonom makro yang selalu mendengungkan hilangnya daya beli, cara berpikir mikroekonomi lebih diarahkan pada keinginan membeli (willingness to spend). Kata krisis yang didengungkan terus-menerus dapat mengakibatkan konsumen kehilangan keinginan atau ill feel (bahasa gaul anak muda).

Keinginan membeli adalah suasana permintaan yang jauh lebih berbahaya bagi perekonomian ketimbang pasar kehilangan daya beli. Kehilangan daya beli dapat diperbaiki dengan stimulus perekonomian, sesuatu yang disuntikkan pemerintah melalui APBN, pinjaman, paket-paket perekonomian, kebijakan fiskal,dan sebagainya.

Tetapi kehilangan gairah berbelanja tak mungkin disembuhkan dengan hal-hal seperti itu. Oleh karena itu, marilah kita melihat lebih objektif krisis keuangan global kali ini. Menurut saya, yang tengah terjadi saat ini bukanlah kehilangan daya beli kita. Kita bisa lihat indeks keyakinan konsumen (consumer confidence index) masih cukup tinggi.

Sebaliknya indeks tren bisnis atau producer confidence index menunjukkan tanda-tanda menurun. Ini berarti persoalan ada di kepala para eksekutif,bukan di kepala konsumen. Dalam hal ini, jelas dibutuhkan marketing therapy, yaitu suatu proses pemulihan kepercayaan di kepala produsen, eksekutif pemasaran, dan keuangan, agar tidak bekerja dengan prinsip quasi crisis,yaitu seolah-olah krisis, sehingga mengakibatkan suplai berkurang sebelum pasar benar-benar mengurangi konsumsinya. Akibatnya akan terjadi kelangkaan dan pasar domestik akan hancur diserbu produsen asing yang kelebihan suplai karena gagal menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Downshifting

Hukum marketing in crisis yang pertama adalah downshifting. Hukum ini menandaskan agar di masa krisis, produsen membidik setingkat lebih tinggi daripada segmen yang biasa dibidik. Untuk jelasnya mari kita perhatikan lebih dulu faktafakta berikut.Rumah makan di daerah segitiga emas (kawasan perkantoran) mengalami penurunan pelanggan sebanyak 30%.

Tetapi beberapa rumah makan di daerah Jakarta Kota mengalami kenaikan pengunjung sebanyak 30%. Retailer Matahari mengakui beberapa gerai tokonya mengalami kenaikan penjualan, sementara geraigerai fesyen di kawasan malmal mewah mengalami penurunan. Seorang konsumen yang berniat membeli sedan mewah mengaku membatalkan rencananya, tetapi kini beralih ke mobil keluarga (SUV).

Di bulan Desember kemarin, hotel-hotel di Bali tidak kosong, melainkan kebanjiran pengunjung. Sebagian wisatawan yang berlibur di Bali mengatakan,mereka mengubah rencana liburan dari Eropa ke Bali karena selisih mata uang yang semakin lebar. Fakta-fakta itu menunjukkan konsumen tidak kehilangan daya beli, tetapi mengalami proses ill feel dalam berbelanja luxuries (barang-barang/jasa-jasa mahal).

Mereka mengalami proses yang saya sebut sebagai downshifting,yaitu beralih ke pasar dengan kualitas atau segmen setingkat di bawahnya. Fakta-fakta dan pendekatan ini dapat dilihat dalam buku baru saya, Marketing in Crisis yang baru beredar dua minggu yang lalu. Dari fakta-fakta itulah kita harus sedikit lebih waspada karena konsumen tidak tinggal diam, melainkan berpindah segmen.

Dalam perpindahan itu tidak hanya terjadi penghilangan pasar, melainkan juga terjadi permunculan pasar-pasar baru (pandangan optimisme). Sebaliknya, tidak hanya terjadi pemunculan pasar-pasar baru, melainkan juga terjadi penciutan dan menghilangnya konsumen (pandangan pesimisme).

Jadi diperlukan kewaspadaan sekaligus kejelian mengungkap peluang-peluang baru dengan teknik-teknik baru yang didasari oleh terapi pemasaran (marketing therapy). Salah satu caranya adalah dengan membidik setingkat di atas segmen yang lama dengan biaya yang lebih terjangkau. Untuk itu diperlukan hukum kedua, yaitu downcosting dan positive marketing. Downcosting adalah sebuah metode dengan pendekatan pada aspek biaya sedemikian rupa agar perusahaan memiliki keleluasaan dalam mengepung pasar.

Mereka yang pernah belajar di sekolah bisnis tentu familier dengan konsep learning curve atau experience curve. Karena memproduksi berulang-ulang,pada produk yang uniform dan standar, kita bisa memperoleh tingkat kesalahan yang rendah. Kita juga berpotensi mendapatkan alternatif bahan baku sehingga cost-stucture menjadi lebih rendah.

Teh Botol Sosro belum lama ini meluncurkan teh botol baru dalam kemasan plastik less sugar.Ini jelas sebuah contoh praktik downcosting yang mengakibatkan perusahaan dapat memiliki keunggulan untuk melakukan manuvermanuver pemasaran di masa krisis.Tentu saya masih ingin mengajak Anda melihat krisis dari perspektif lain, yaitu perspektif opportunity. Saya akan lanjutkan pada kolom ini pekan depan.
Anda dapat membaca lanjutannya di Marketing in Crisis (2)

4:45 PM | Posted in | Read More »

Sales Tips - Defining Your Attitude



Most of you would have probably heard the old saying "Your attitude in life will determine your altitude", have you ever stopped to think what this really means?

Lets rearrange some words and see what we come up with,

"A lazy attitude and philosophy will no doubt destroy any talent and skill you possess, leaving you eventually with the company and reputation of mediocre results."

Interesting to comprehend when you look at it from this angle. I guess the point I am really trying to get across is simply this, often we work very hard in upskilling our selves in certain areas, motivating our selves for success, we do all the physical work to get our selves equipped to get more sales, however the most important part is sometimes neglected, ATTITUDE!

Your attitude is what drives all your physical learning and behaviors, if your attitude is off in the slightest you can be sure that this will be reflected in your results. Often times when results do not appear to be going your way the answer can be found in your attitude somewhere.

OK, lots of talk about how important attitude is with in the sales process, now lets get into some specifics, let us take a closer look at what makes a positive, focused successful attitude and lets equally examine what makes a lazy, no good, amateur one.

Firstly lets start with what makes up an lazy amateur attitude, Now when i say negative attitude it is important to note that you only need slight negativity to completely deter your focus, so be sure to understand that negativity is like wild fire, it only takes a small spark and once it catches has the potential to ruin a whole crop.

Perhaps the easiest way to illustrate what makes up a negative attitude would be with a list of typical behaviors.

Negative Behaviors such as;

- Thinking as if you are a victim of a conspiracy
- Losing your temper
- Not taking full responsibility for your results (both good and bad)
- Lack of discipline (thinking, i can just do it tomorrow)
- Lack of preparation
- Giving up easily after a setback
- Joining in on office gossip
- Complaining to management

There are probably so many more to add to the list but i think based on this list it is clearly visible as to what behaviors are associated with a negative attitude. Now looking at the above list you may have very well noticed a couple of behaviors that you have been or are still guilty of portraying to this day.

The honest truth is we have all been guilty of these behaviors at some point in our selling careers, it is what makes us human, but here is the important part. It is only when you choose to eliminate these behaviors from your attitude that you will begin to define your true attitude and essentially begin to multiply your income by 5, by 10, by 20.

Remember, anyone of the above behaviors set off can have a devastating effect on the rest of your income, you must be disciplined at all times never allowing yourself to slip, not even for a second, especially on days when you feel weakest.

It is this very act of discipline that forms the basis for your positive behaviors ahead.

Now that we have covered the various behaviors and consequences of a negative attitude let us take a look at exactly what goes into making up a sales King's attitude behaviors;

- Always taking full responsibility for all results (good or bad)
- Developing an attitude of NO Excuses (no matter what)
- Every failure is lined with a positive lesson
- Today is a new day with new opportunities
- Always be prepared
- Dress and smell for success
- Act like a sales king at all times (language and persona)
- Never participate in negative conversations
- Associate with other sales kings
- Always be disciplined (if you say you will do something, then do it)
- Be creative, constantly educate your self by reading, etc).
- Become an expert in your field
- Always know where you are going
- Do not be afraid to lead

There are most likely many others I could add to the list, but I think we now have enough of a comparison to see the striking difference between a negative attitude which only serves to set you back in your quest for success and a positive attitude which gives you every opportunity to move forward and earn what you deserve.

If you only take on one thing from this article I urge it to be this, Please embed this point in your mind forever,

"A lazy attitude and philosophy will no doubt destroy any talent and skill you possess, leaving you eventually with the company and reputation of mediocre results."

Fabian De Marco

8:56 PM | Posted in | Read More »

Imbas Krisis - Strategi Pemasaran harus Berubah

Krisis Ekonomi Global ! pasti semua kita mengetahuinya dan sangat jamak dengan istilah tersebut. Krisis ini menyebabkan terjadinya penurunan daya beli dari masyarakat ... so berdampak dari perubahan perilaku mereka di dalam membelanjakan uangnya. Konsumen akan lebih hati-hati, menunda pembelian, mencari harga murah, program diskon yang besar dan banyak lagi hal yang tampak dari prilaku konsumen di pasar.

Perubahan perilaku konsumen di dalam situasi krisis saat ini, harus diantisipasi. Strategi pemasaran yang tepat, akan menjaga pangsa pasar perusahaan kita meskipun konsumen kita mengurangi besaran anggaran belanja mereka.


Pengamatan langsung saya, terjadi penurunan volume penjulan pada semua sektor, hal-hal yang tampak jelas di pasar adalah :
1. Konsumen mengurangi besaran pemakaian/konsumsi atas suatu produk.
2. Konsumen menunda rencana pembelian yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. Konsumen lebih memilih produk yang sama, namun dengan ukuran yang lebih kecil.
4. Konsumen mencari pengganti produk sejenis yang berharga lebih murah, dan ukuran yang lebih besar.
5. Konsumen menghentikan pembelian dan penggunaan atas suatu produk.

Perubahan-perubahan perilaku konsumen sangat mempengaruhi kondisi penjualan dari perusahaan. Celakanya kondisi saat ini semakin diperburuk oleh kondisi "Nilai kurs kita yang masih bertahan di level 11.800/ 1 US$, harga-harga barang masih terus mengalami kenaikan (khususnya barang-barang yang kandungan importnya masih tinggi). Mobil sudah mengalami kenaikan 4 kali dan update terbaru per 1 April baru mengalami penyesuaian harga. Asosiasi-asosiasi perdagangan setiap bulannya merilis kondisi pasar dari suatu industri. Pengamatan saya terjadi rata-rata penurunan pasar sebesar 30% dari tahun sebelumnya.

Langkah-langkah pemasaran yang dapat dilakukan :

1. Jangan terjebak dalam perang harga, konsumen kedepannya tidak akan percaya dengan kebijakan harga yang ditetapkan. Konsumen lebih mudah untuk mempercayai adanya kebijakan kenaikan harga dibanding sebaliknya. (aneh ya ... but its true in indonesian market).
2. Berikan nilai tambah atau added value service. Kemudahan dalam berhubungan dengan kita juga merupakan nilai tambah.
3. Tetap menjaga hubungan dengan pelanggan, dapat dilakukan melalui "news letter, Customer Focus or Focus Group Discussion. Yang mungkin dapat kita kurangi adalah biaya konsumsi dan sewa tempat kegiatannya.
4. Promosi tetap harus berjalan dengan baik, Promosi juga sangat mempengaruhi akan citra dan value serta trust dari sebuah Brand.
5. Cepat dan tanggap atas sebuah keluhan dan permasalahan yang muncul atas sebuah pelayanan kepada konsumen.
6. Menciptakan program-program penjualan yang berorientasi atas loyalitas pelanggan.
7. Senantiasa mengamati arah perubahan dan keinginan pasar, perusahaan akan lebih siap merespon perubahan yang terjadi.
8. Memaksimalkan setiap momentum yang terjadi di pasar.

Perusahaan harus tetap eksis di pasar, perubahan kondisi pasar (daya beli, persaingan dan kebijakan pemerintah) adalah hal biasa, yang menjadi sangat luar biasa adalah bila kita tidak mampu untuk dapat berubah. Rencanakan dengan baik dan segera Action dan action.

9:33 AM | Posted in | Read More »

Bisnis Proses dalam Perusahaan



Setiap perusahaan ingin meningkatkan penjualan dan mendapatkan keuntungan yang lebih dari pangsa pasar yang ada. Berbagai strategi diterapkan untuk meraih tujuan tersebut, yang memang menjadi indikasi keberhasilan perusahaan. Salah satu strategi yang mampu meningkatkan nilai penjualan dan keuntungan adalah dengan selalu mengorientasikan diri perusahaan pada kebutuhan dan kepuasan customer.

Untuk meluncurkan produk yang baik tidak pernah terlepas dari standar proses bisnis perusahaan yang baik pula. Proses bisnis yang benar dapat menekan biaya operasional suatu perusahaan dalam memproduksi produk keluarannya, karena perusahaan sudah tidak perlu lagi berimprovisasi dalam menyusun standarisasi proses bisnis mereka.

Bahkan dari proses bisnis yang sudah terstandarisasi tersebut, perusahaan juga dapat meningkatkan efektifitas produksi dan operasional perusahaan.

Pada setiap tahapan dari proses bisnis yang dilalui, perusahaan selalu memiliki sasaran-sasaran yang harus dicapai sesuai dengan visi dan misinya. Setiap sasaran (objective) tersebut selalu berhubungan dengan bidang pekerjaan, sehingga secara tidak langsung setiap tahapan pada proses bisnis selalu melibatkan bidang-bidang pekerjaan yang sesuai dengan objective pada tahapan tersebut. Jika kita amati dengan seksama maka setiap objective pada tahapan selalu terdapat pengetahuan yang apabila dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan performa perusahaan.

Setiap perusahaan atau organisasi selalu memiliki proses bisnis yang dilakukan untuk menghasilkan dan mengelola produk atau jasa yang ditawarkan kepada customer.

Proses adalah aktifitas atau kumpulan dari aktifitas yang bersifat untuk mengolah masukan menjadi suatu keluaran yang dibutuhkan.

Hasil output dari suatu proses terkadang dibutuhkan oleh proses-proses yang lain untuk menghasilkan output yang berbeda dan selanjutnya secara keseluruhan proses-proses tersebut menghasilkan output yang melayani pihak eksternal yaitu customer. Output inilah yang dinamakan sebagai produk atau jasa.

Proses bisnis (business process) dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari proses yang mendukung proses-proses operasional dalam perusahaan. Proses bisnis berisi kumpulan aktifitas (tasks) yang saling berelasi satu sama lain untuk menghasilkan suatu keluaran yang mendukung pada tujuan dan sasaran strategis dari organisasi.

Suatu proses bisnis dibangun untuk mendefinisikan secara spesifik aktifitas-aktifitas yang ada didalamnya.

Setiap proses terkadang melibatkan banyak tahapan yang memiliki satu atau lebih sasaran. Tahapan-tahapan tersebut merupakan gambaran dari aktifitas yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah terdefinisikan.

Suatu proses bisnis yang baik harus memiliki tujuan-tujuan seperti mengefektifkan, mengefisienkan dan membuat mudah untuk beradaptasi pada proses-proses didalamnya. Artinya proses bisnis tersebut harus merupakan proses bisnis yang berorientasikan pada jumlah dan kualitas produk output, minimal dalam menggunakan sumber daya dan dapat beradaptasi sesuai dengan kebutuhan bisnis dan pasar.

Pengelolaan proses bisnis yang baik akan memberikan keuntungan-keuntungan pada organisasi perusahaan, yaitu :

  1. Organisasi dapat lebih memfokuskan diri pada kebutuhan customer.
  2. Organisasi mampu mengendalikan dan memprediksi setiap perubahan yang terjadi di lingkungan dalam ataupun luar.
  3. Organisasi mampu melakukan pengukuran pada setiap perubahan pada kondisi perusahaan.
  4. Organisasi mampu memperbaiki tingkat penggunaan sumber dayanya sehingga dapat menekan biaya pemakaian serendah mungkin.
  5. Organisasi dapat mengelola dengan baik integrasi proses-proses antar bagian yang ada.
  6. Organisasi dapat memonitor secara sistematik aktifitas-aktifitas pada setiap proses operasional dalam perusahaan.
  7. Organisasi dapat dengan mudah menemukan kesalahan dalam proses dan memperbaikinya secepat mungkin.
  8. Organisasi dapat memahami setiap proses dan metode dari proses yang benar.

Proses Bisnis yang efektif dan efisien dapat menghasilkan nilai-nilai kompetitif bagi perusahaan. Proses bisnis yang dikelola dengan baik akan mampu menumbuhkan peluang. Namun perusahaan terkadang kurang memahami dan tidak mampu mengontrol proses bisnis yang dimilikinya. Pihak manajemen mungkin telah berhasil membuat prosedur yang ideal untuk menjalankan proses bisnisnya, tapi pada kenyataannya, implementasi di lapangan dapat sangat berbeda dari apa yang telah dirancang sebelumnya. Pada pelaksanaan suatu proses bisnis kadang terjadi redundansi, ketidakefisienan, stagnasi, dan berbagi kesalahan-kesalahan lainnya yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya. Bisnis yang tidak tangkas dalam mengontrol proses bisnis yang dimilikinya cenderung akan menghalangi usaha perusahaan dalam mencapai sasaran yang diinginkan.

6:10 PM | Posted in | Read More »

Membangun Komunikasi Efektif dalam Kantor



Di dalam organisasi Anda terdapat aturan-aturan tertulis dan tidak tertulis tentang bagaimana individu berkomunikasi dengan kolega, karyawan dan atasan. Dalam organisasi lain, ada keluwesan yang lebih besar dan Anda bisa berkomunikasi dengan seseorang yang lebih tinggi kedudukan atau hirarkinya dibanding atasan langsung Anda sepanjang Anda mengirim kopi pesan Anda kepada atasan tersebut.

Anda harus tahu siapa yang dapat tersinggung dan siapa yang akan marah ketika Anda mengirimkan sebuah pesan yang melampaui satu level diatas anda. Pada semua kasusnya pentinglah untuk memahami bagaimana kekuasaan mempengaruhi sistem aliran informasinya. Orang dengan kedudukannya memiliki kekuasaan dan bisa mempengaruhi kebijaksanaan, perencanaan dan operasi-operasinya perusahaan

I. Komunikasi dengan Kolega

Komunikasi yang baik diantara kolega-kolega selalu penting dan terutama sekali dalam organisasi-organisasi yang berorientasi tim. Itu penting untuk mengkoordinasikan proyek-proyek, menghasilkan pekerjaan berkualitas yang dilaksanakan dengan baik, memecahkan kesalahpahaman, membagi gagasan-gagasan dan dukungan.

Sangatlah baik untuk mengansumsikan bahwa komunikasi jujur dan terbuka diantara kolega-kolega adalah bermanfaat bagi Anda dan organisasi Anda.

10 Tips Membangun Komunikasi Efektif dengan Kolega

1. Belajarlah tentang masing-masing kolega dengan siapa Anda membagi informasi. Pahamilah sikap-sikap mereka dan level kemampuannya.
2. Terapkanlah kepercayaan. Jangan menghianati kepercayaan atau membuat kolega-kolega secara suka rela menangani proyek-proyek yang tidak diinginkan, misalnya.
3. Bermainlah dengan jujur. Ini akan berlangsung disepanjang jalan ke arah pemberian hak kepada Anda untuk mengharapkan permainan yang adil sebagai pengembaliannya.
4. Temukanlah persoalan-persoalan dan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan yang menyenangkan Anda berdua. Temukanlah pokok-pokok persetujuan tentang prosedur-prosedur operasi. Bagikanlah ide-ide yang baik.
5. Tunjukanlah penghargaan.
6. Bersedialah berbicara dan jangan menimbun informasi pada saat Anda menerapkan kepercayaan.
7. Berikanlah kontribusi yang solid dan produktif untuk proyek-proyek kelompok.
8. Bantulah orang lain mencapai tujuan-tujuannya.
9. Bantulah orang lain mengembangkan kecakapan-kecakapannya.
10. Berikanlah umpan-balik konstruktif bilamana diperlukan.

II. Berkomunikasi dengan Orang yang Bekerja untuk Anda

Kemampuan Anda untuk berhubungan dengan orang yang melaporkan hal-hal yang krusial untuk kesuksesan Anda dan kesuksesan mereka. Anda bertanggungjawab untuk menghasilkan yang paling baik buat mereka dan mereka mereka mendukung Anda dalam memenuhu tanggungjawab Anda. Dimulai dengan apa yang diinginkan oleh kebanyakan orang dari atasan meraka.

1. Informasi tentang bagaimana menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
2. informasi tentang perusahaan.
3. Penjelasan tentang proyek-proyek tim dan bagaimana proyrk-proyek tim berhubungan dengan tujuan-tujuan organisasi.
4. Umpan-balik konstruktif tentang kinerja.
5. Satu kadar kemandirian.
6. Penghargaan ketika mereka mendapatkannya dan tanpa meminta.
7. Kesan ikut memiliki.
8. Pekalah pada pengaruh yang dimiliki pesan Anda.
9 Cara Mengembangkan Otorisasi

Untuk menjadikan komunikasi yang lebih efektif dengan para anggota tim yang lapor kepada Anda :

1. Adil dan jangan pilih kasih.
2. Hargailah.
3. Berusahalah sejujur mungkin dan arahkanlah sekuat mungkin.
4. Etislah tentang bisnis perusahaan dan luweslah dengan masalah-masalah individual.
5. Perjelaslah tentang siapa yang bertanggungjawab untuk apa.
6. Bersifat empatilah dan berusahalah memahami situasi-situasi dari pandangan-pandangan mereka.
7. Sadarlah atas keadaan emosinya.
8. Pekalah pada pengaruh yang dimiliki pesan Anda.
9. Monitorlah komunikasi monverbal Anda, terutama sekali nada suara Anda.



III. Berkomunikasi dengan Atasan

Ketika Anda ingin berkomunikasi secara efektif dengan sesorang yang mempunyai tanggungjawab dan posisi yang lebih tinggi didalam organisasi Anda, mulailah dengan mengambil petunjuk-petunjuk Anda dari praktek yang mapan. Kalau atasan Anda benar-benar mempunyai pintu yang terbuka, maka pergunakanlah itu. Kalau tidak, pelajarilah cara yang bisa diterima untuk mendekatinya.

Apa yang Harus Anda Katakan ?

Komunikasi dengan atasan Anda sebaiknya lebih formal dibanding komunikasi Anda dengan orang lain. Anda bisa berkomunikasi tentang persoalan-persoalan berikut ini dengan atasan Anda :

1. Informasi yang secara langsung melayani tugas-tugas pembuatan keputusan atasan Anda.
2. Ide-ide tentang proyek-proyek spesifik.
3. Keluhan-keluhan dan masalah-masalah penting yang akan menguntungkan dari perhatian atasan Anda.
4. Usulan-usulan yang dipikirkan dengan baik untuk memperbaiki prosedur-prosedur.
5. Informasi laporan yang mapan.

Hindarilah berkomunikasi tentang persoalan-persoalan lain yang tidak mempengaruhi kinerja Anda, seperti hubungan pribadi Anda.

Bagaimana Mengembangkan Otoritas dengan Atasan

Tentunya, langkah pertama untuk menetapkan reputasi yang berharga adalah dengan berkinerja secara baik dan dapat dipercaya. Namun itu hanyalah langkah pertama. Anda harus juga :

1. Belajar apa saja yang Anda bisa tentang pekerjaan Anda, departemen Anda, perusahaan Anda dan industri Anda.
2. Simpanlah catatan-catatan baik dalam rapat-rapat dan reviewlah catatan-catatan tersebut. Anda akan bermanfaat kalau Anda bisa membantu orang lain mengingat apa yang meraka capai dan rencanakan dalam rapat-rapat.
3. Janganlah malu untuk menyajikan ide-ide paling baik Anda dalam setting berprofil tinggi, ketika Anda mendapatkan perhatian atasan Anda.
4. Bersedialah dan siaplah untuk membuat Anda terlihat baik oleh atasan Anda atau membantunya ketika tim atau departemen Anda dalam sorotan.
5. Temukanlah apa yang dipikirkan oleh atasan Anda dan apa yang dia butuhkan untuk membuat keputusan-keputusan.
6. Pertajam pemilihan waktu Anda sehingga Anda bisa mewaspadakan atasan Anda atas masalah-masalah yang berkembang tanpa beresiko menyampaikan berita buruk ketika ia inginkan.

5:51 PM | Posted in | Read More »